ALFATIH WEB

A dashboard to share about knowledge, experience and technology informatic

MENJADI PRIBADI YANG SUKSES

Kata sukses sering dipakai oleh orang terutama dalam sebuah pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya. Marilah kita lihat arti dari kata sukses itu. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, sukses berarti berhasil, beruntung. Namun indikator sukses ini akan berbeda-beda dari orang satu dengan orang yang lainnya. Sebagian besar kesuksesan orang itu dinilai dari fisiknya antara lain kekayaan, pangkat dan jabatan yang tinggi jika belum tercapai belum dikatakan sukses meskipun tidaklah sedikit untuk mencapai itu semua mereka melakukan hal-hal yang melangggar aturan (menghalalkan segala cara). Pandangan seperti diatas merupakan pandangan sempit dari arti sukses itu sendiri.

Pernah saya mengikuti sebuah pelatihan yang memiliki arah tujuan yang hampir sama bagaimana mencapai manusia yang sukses secara hakiki. Mari kita pahami lebih dulu tentang sebuah paradigma kesuksesan. Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik). Berdasarkan arti kata paradigma tersebut, maka sebuah paradigma tidaklah selalu benar oleh karenanya perlu untuk di uji dengan melihat paradigma tersebut dari sisi yang lain.

Paradigma sukses, cara memperolehnya dibedakan menjadi dua orientasi yaitu orientasi watak dan orientasi kepribadian. Dua kata yang memiliki perbedaan arti yang cukup signifikan yang berpengaruh dalam pemaknaan sebuah sukses. Watak adalah sifat batin manusia yg mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah lakunya, budi pekerti, tabiat. Sedangkan kepribadian menurut Sigmund Freud adalah sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya.

Orientasi Watak Orientasi Kepribadian
JujurIntegritas

Rendah hati

Tekun

Tulus

Setia

Adil

Kasih

Sabar

Golden rules, dsb

SenyumKeterampilan berinteraksi

Komunikasi

Gaya

Penampilan

Eye contact

Dsb,

 

Pada jaman dulu, kesuksesan itu dinilai dari wataknya. Jika tidak memilikinya/ melanggar maka orang tersebut tidak dikatakan sukses. Akan tetapi waktu telah berputar dan dunia ini telah banyak mengalami perubahan, coba lihat saja contohnya di Indonesia ini saja, dilingkungan sekitar kita, tidak sedikit orang yang kaya raya, mempunyai pangkat dan jabatan tapi sering tersandung oleh kasus yang akhirnya menjerat orang tersebut ke dalam penjara. Jika di sinkronkan dengan teori watak maka teori tersebut sudah tidak berlaku karena ada pelangggaran dari sifat-sifat yang ada didalamnya (terutama sifat jujur) dan orang lebih banyak menuai sukses melalui teori kepribadian.

Mari kita kembali menilik ke indikator orang dikatakan sukses. Apakah kesuksesan itu hanya dinilai dari kekayaan, pangkat dan jabatan? Mungkin itu tidak salah, akan tetapi itu semua hanya dalam bentuk physicly yang sifatnya semu. Kesuksesan yang sejati meliputi keseluruhan dari pribadi individu yang bersangkutan dari berbagai segi yang meliputi dari dua orientasi diatas baik dari orientasi watak maupun kepribadian. Antara watak dan kepribadian bagaikan fenomena gunung es seperti kata sigmun freud, dimana watak adalah hal yang tidak terlihat / tidak nampak tapi mempunyai pengaruh yang sangat besar dibandingkan kepribadian.

Kesuksesan yang akan kita capai sama dengan nasib masa depan kita. Setiap individu manusia atau kelompok mempunyai nasibnya masing-masing, dan diharapkan mereka berusaha untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik.  Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan oleh Allah bahwa “…dan tidak akan Aku rubah keadaan (nasib) suatu kaum pun sampai mereka merubah nasibnya masing-masing…”. sudah jelas bahwa apa yang kita dapat adalah hasil dari apa yang pernah kita tabur / tanam sebelumnya yang biasa disebut dengan Hukum Tabur Tuai. Dalam hal ini Hukum Tabur Tuai adalah sebagai berikut “ketika kita menabur pikiran akan kita tuai perbuatan, perbuatan akan menuai kebiasaan, kebiasaan menimbulkan sebuah watak (karakter), dan karakter (watak) ini akan menentukan arah hidup kita (nasib)”. Seperti pribahasa yang pernah kita dengar sewaktu kita SD dulu yang berbunyi “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”.

Sesuai hukum diatas, antara pikiran dan tubuh kita adalah satu sistem.  Sehingga saat kita menghadapi suatu tantangan mungkin dalam dunia kerja kita, ketika  kita berfikir BISA maka tubuh akan bereaksi seolah-olah kita benar-benar BISA, begitu sebaliknnya. Permasalahannya kita hiudp tidak dalam dunia kita sendiri, kita berinteraksi dengan orang lain yang secara tidak langsung memiliki andil dalam polo berpikir kita. Selama ini orang banyak berpikir kecil  dan pesimis sebagian banyak di akibatkan penaburan pikiran oleh masyakat kita sendiri. Oleh karena itu positif thingking akan sangat berarti dalam perbuatan kita yang pada akhirnya akan mempengaruhi nasib kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: