ALFATIH WEB

A dashboard to share about knowledge, experience and technology informatic

New: Akankah Indonesia Kembali Seperti Masa Orde Baru

Indonesia sejak awal kemerdekaan menganut paham demokratis (demokrasi pancasila dg dasar hukum UUD ’45) yang telah mengalami 4 jaman yaitu orde lama, orde baru, transisi/reformasi, post reformasi. Sudah berganti-ganti pula pemegang tampuk kepemimpinan kepala negara mulai dari Bung Karno sampai SBY dan aturan perundang-undangan pun telah mengalami beberapa amandemen demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa ini. Proses Amandemen ini mulai gencar setelah adanya babak baru yaitu reformasi yang diprakarsai oleh mahasiswa dalam memprotes kepemimpinan Pak Harto selama 32 tahun hingga berujung dengan proses penggulingan kursi kekuasaannya, kita mungkin akan tetap ingat prosesi gerakan reformasi bulan Mei ’98 lalu.

UUD ’45 sebagai dasar hukum negara telah banyak mengalami perbaikan dan penyempurnaan melalui amandemen yang dilakukan oleh para wakil rakyat. Kita ingat bahwa salah satu amandemen yang dilakukan adalah membatasi seseorang menjabat sebagai kepala negara maksimal adalah 2 periode, waktu itu dilakukan untuk mencegah seseorang berkuasa hingga beberapa kali periode hingga berakibat pada penyalahgunaan wewenang dan jabatan (KKN) baik dari pribadi, keluarga atau sekelompok golongan tertentu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rezim Soeharto selama 32 tahun hingga KKN ini mengakar kuat dari atas sampai tingkat bawah tidak ada instansi yang bebas dari KKN jika semua mau jujur pada publik. 

Sekarang ini proses pergantian kepala negara sudah mulai berjalan sesuai dengan harapan sehingga tidak ada seseorang yang akan memegang hingga puluhan tahun, tapi kenapa sekarang ini UUD ’45 minta diamandemen dibagaian ini lagi? seperti yang diusulkan oleh Jubir P. Demokrat dan juga anggota DPR Ruhut Sitompul yang mengusulkan untuk mengamandemen UUD ’45 Utamanya pasal mengenai masa jabatan presiden yang dua periode, halitu dilakukan agar SBY bisa menjabat lagi sebagai presiden (seperti yang dilangsir di detik.com). Dimana saat ini sedang menggali dukungan untuk proses amandemen itu. Demi mengukuhkan idenya, Ruhut melontarkan beberapa alasannya seperti “Namanya negara demokrasi, boleh menyampaikan ide. Masa Ruhut yang menyampaikan ide banyak yang protes. Kepala negara dibuat poster drakula saja tidak ada yang protes” , kemudian ruhut pun juga mengatakan “Dahulu Indonesia menjadi negara nomor satu pelanggar HAM, korupsi, dan lainnya. Di bawa Pak SBY justru Indonesia menjadi lebih baik” serta “untuk 2014 kita tidak ingin membeli kucing dalam karung” (dikutip dari detik.com)

Apakah ini adalah siasat dari kelompok tertentu untuk menguasai negara dan mengembalikan ke kondisi seperti rezim orde baru  yang menjadikan negara demokrasi ini seperti sebuah kerajaan kekuasaan oleh beberapa orang saja? semoga hal ini tidak terjadi. Karena rakyat negara ini telah pengalaman dan merasakan pahitnya serta telah capek terhadap kebusukan-kebusukan yang dilakukan para pejabat dan wakil rakyat guna melanggengkan misi pribadi termasuk dalam hal membangun akar KKN kekusaan kepala negara.

Harusnya Ruhut mau menoleh kebelakang sejenak melihat pengalaman masa rezim Soeharto bagaimana dahulunya, dan mengambil hikmah dari pengalaman tersebut sehingga negara dan rakyat bangsa ini tidak masuk kedalam lubang kebodohan yang sama. Soeharto dalam periode awal memimpin negara ini mungkin dikatakan baik tapi seiring dengan berjalannya waktu namanya juga seorang manusia, Soeharto memiliki tingkat kebutuhan yang takkan bisa berhenti dan rasa memiliki selamanya apalagi dia dipengaruhi oleh lingkungan termasuk anak dan istrinya hingga melakukan KKN dan menjadi penguasa tunggal bersama antek-anteknya membinasakan mereka yang mencoba mengkritik apalagi mencoba menggoyahkan kursi kekuasaannya, semua jalan dilakukan guna mencapai hasratnya. Apakah rakyat negara ini mau menjalani hidup seperti itu lagi? tidak mempunyai kebebasan bersuara dan berpendapat? Jika ide Ruhut tentang usulan amandemen UUD’45 pasal kekuasaan presiden ini terlaksana sama saja wakil rakyat ini tidak melihat pengorbanan yang telah dilakukan semasa meletusnya gerakan reformasi dan pengorbanan mereka (pahlawan reformasi) yang meninggal akibat reformasi. Dan apakah SBY nanti akan bisa menjalankan amanah sebagai presiden tetap dalam jalurnya? hmmm itu adalah 50-50 tidak ada yang bisa menjamin termasuk Ruhut. Karena sifat dasar manusia adalah rakus akan keinginan pribadi.

Mungkin kita telah mendengarkan berita tanggal 17 Agustus kemarin saat upacara kemerdekaan RI apa yang telah dilakukan oleh SBY? SBY menyebarkan souvenir ke para tamu undangan berupa Buku wawancara khusus putra sulungnya Agus Harimurti serta Buku batik istri SBY Ani Yudhoyono, apakah ini bukan sesuatu indikasi akan penyalahgunaan kekuasaan? mungkin sebagain pendukung SBY mengatakan tidak ada salahnya membagikan buku itu, bahkan pemimpin harian jurnas N Syamsudin memberikan dukungan dengan mengatakan “positive thingking dong, itukan bukan souvenir”, kalau hal itu bukan souvenir lalu apa? sebuah tanda tanya besar bagi kita semua akan akar dinasti SBy yang mulai dibangun saat ini. Seperti yang dikatakan pengamat politik  Ray Rangkuti dalam wawancaranya mengatakan “Tindakan sangat tidak sportif dari SBY, memunculkan buku yang tidak ada kaitannya dengan negara”. Yang tidak dibenarkan seperti yang ditegaskan Ray adalah SBY menggunakan fasilitas dan uang negara dalam acara kenegaraan untuk populerkan keluarganya. Selain itu Ray mengatakan “SBY mulai membangun dinasti,” tandasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: